cari

Senin, 19 Juli 2010

Kesendirian

Apa yang Anda pikirkan saat sendiri? atau apa yang Anda lakukan ketika sendiri? atau pertanyaan yang paling saya suka: apa yang anda sukai dari kesendirian (baca: sepi)??

Terus terang, saat-saat tertentu dalam hidup saya, saya suka menyendiri. Menjauh dari keramaian dan hiruk pikuk yang kadang membuat saya merasa pening. Saya suka sepi, meski tak jarang pula saya merasa kesepian. Tapi dalam kesendirian itulah saya menemukan waktu yang utuh, benar-benar utuh untuk diri saya sendiri. Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka, saya bisa membaca, saya bisa menulis, menonton film, bahkan sekedar merapikan buku dan kamar yang berantakan. Intinya saya sangat menikmati saat sendiri, tidak ada orang lain di sekeliling saya. Maka sejujurnya saya kadang sangat tidak suka ada orang lain yang datang secara tiba-tiba dan menginterupsi kesendirian saya, hal itu akan dengan sangat mudah mengubah mood saya.

Tentu saja hal itu tidak saya lakukan sepanjang waktu dalam hidup saya selama ini. Saya bukan autis. Saya hanya menyukai saat-saat dimana saya butuh menyendiri. Dan tentu saja pula saya mempunyai teman dan sahabat untuk sekedar bercanda, have fun dan berbagi. Saya pikir sangat normal ...

Satu hal lagi, saya juga suka saat-saat dimana saya berada diantara orang-orang yang tidak saya kenal, tetapi saya tidak mempunyai kepentingan yang sama dengan mereka. Misalnya saat saya berada di kereta--KRL--, begitu banyak orang yang mungkin semuanya tidak saya kenal, dan masing-masing mempunyai tujuan sendiri. Tapi saya tidak suka ketika saya berada di sebuah acara, sendiri, saya tidak mengenal orang-orang yang lain, misalnya saya hanya mengenal yang punya acara saja: membuat saya mati gaya.

Well, menurut saya pribadi setiap kita butuh saat-saat sendiri .... untuk sekedar berkontemplasi atau melakukan hal-hal yang menyenangkan ....

So, nikmati 'kesendirian' mu ...

Minggu, 18 Juli 2010

Waktu

Apa yang Ada di benak Anda tentang waktu?
Suatu ketika saya pernah berpikir, sebenarnya waktu yang berjalan meninggalkan kita atau kita yang berjalan menjauhi waktu? Mari kita melihatnya dari konsep dimensi. Seringkali kita mendengar kata dimensi waktu. Waktu adalah sebuah dimensi. Pertanyaannya, kita yang berada di dimensi waktu atau waktu yang berada di dimensi kita?Saya tidak sedang berbicara secara ilmiah, saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya secara pribadi. Waktu dan kita (baca: kehidupan manusia) adalah dua hal yang terpisah. Waktu sendiri, dan kita berdiri sendiri. Tetapi waktu ada karena kita ada, bukan sebaliknya: kita ada karena ada waktu. Sepanjang kita ada--di dunia--waktu akan tetap ada. Bahkan ketika kita tiada--di dunia--waktu akan tetap ada. Kita membutuhkan waktu, dan sepanjang pengalaman saya, waktu tidak peduli pada kita. Kita membutuhkan waktu dalam hal mengetahui ukuran: usia/umur. Hanya sejauh itu. Sebab waktu tidak bisa digunakan untuk mengukur tingkat kualitas, ia hanya digunakan untuk mengukur kuantitas. Kita hanya menggunakan waktu untuk mengukur berapa lama, bukan seberapa jauh. Tidak ada teori semakin tua seseorang, pasti semakin bijak. Mungkin saya setuju seandainya peribahasa ilmu padi didepannya diberi kata sebaiknya: sebaiknya seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Sebab jika kata merunduk kita artikan sebagai bijaksana, tidak sombong--maka tidak tepat. Buktinya banyak manusia yang semakin tua malah semakin menjadi-jadi.

Kita hanya membutuhkan waktu untuk sebatas itu. Pada kenyataannya waktu tidak perduli pada kita. Ia terus berjalan, berjalan dan berjalan, tanpa peduli kita terseok-seok terjatuh-jatuh mengiringinya.Ia sama sekali tidak peduli. Ia hanya berjalan dan mencatat siapa-siapa yang tumbang dan menyerah dalam perjalanannya.
Maka, kita hanya butuh waktu sebagai ukuran kuantitas, bukan kualitas. Janganlah menjadikan waktu sebagai tolok ukur keberhasilan akan sesuatu, karena setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. Menilai ketertinggalan kita terhadap waktu pada dasarnya disebabkan karena kita membandingkannya dengan manusia lain, bukan terhadap waktu itu sendiri...

So, kita adalah kita dan waktu adalah waktu ...

==Kabel E7/16==

Jumat, 16 Juli 2010

ketakutan--kehilangan

Apa yang dirasakan orang ketika menyayangi sesuatu? Rasa takut kehilangan. Apa yang dilakukan orang ketika mencintai sesuatu? Rasa takut... takut tidak bisa mencintainya lagi, takut tidak bisa bersamanya lagi dan takut pada hal-hal yang akan memisahkannya dengan hal yang dicintainya itu.
Mungkin bagi sebagian orang yang pernah mengalami rasa sakit karena kehilangan pernah berpikir bahwa seandainya dulu aku tidak pernah mengenalnya, tidak pernah mengetahui keberadaannya hingga aku harus mencintai dan menyayanginya.
Ketakutan terhadap sesuatu menimbulkan kecemburuan. Kecemburuan memantik kecurigaan, dan seterusnya-dan seterusnya.

Intinya adalah rasa takut.
Seperti apa yang saya alami sekarang. saya begitu takut kehilangan. Bukan kehilangan orang yang saya cintai, karena pada dasarnya saya mencintai semua orang, bahkan musuh-musuh saya. Saya mencintai secara universal. Saya hanya takut kehilangan orang-orang yang mencintai saya. Meski saya mencintai semua orang secara universal, saya yakin tidak mudah mendapatkan cinta dari orang lain. Ketidakmudahan itulah yang menyebabkan saya merasa takut. Saya takut suatu ketika ibu saya tidak mencintai saya lagi, hingga saya harus merasa menjadi anak yatim meskipun ibu saya masih ada. Saya takut saya kehilangan cinta dari istri dan anak-anak saya suatu saat kelak, hingga saya merasa segala pengorbanan dan kerja keras saya sia-sia. Saya takut kehilangan cinta dari harta benda saya hingga mereka semua menjauh dan saya menjadi sangat miskin. Saya takut kehilangan cinta dari teman-teman seperjuangan, baik di tempat kerja, di kampus, di kajian-kajian yang saya ikuti, hingga saya merasa sendiri dan harus berjuang dalam sepi. Saya takut kehilangan cinta dari saudara-saudara saya di dien (baca:agama) yang saya anut, hingga saya harus kehilangan arah dan tujuan, karena sejatinya karena merekalah saya tahu apa hakikat hidup. Dan sejujurnya, saya sangat takut kehilangan cinta dari Tuhan saya, hingga saya harus merasa menjadi mahluk kerdil yang percaya pada-Nya tapi tidak diakui oleh-Nya.
Dan seringkali saya merasa takut pada ketakutan itu sendiri. Ketakutan yang kadang membuat saya menjadi seperti orang tidak waras. Ketakutan yang kadang membuat saya bertingkah berlebihan, Ketakutan yang selalu membuat saya cemburu, curiga ....

Dan sekarang, saya pun takut ketika harus mengungkapkan ini semua kepada dunia ....

---Kabel E7/16---

Senin, 12 Juli 2010

Kesalahan Terbesar dan Terindah

Mungkin seandainya aku tidak berkirim surat kepadanya, saya tidak akan mendapat pengalaman seberharga ini ...

Adalah seorang sahabat, saya bertemu dia kurang lebih lima tahun yang lalu di sebuah kota di jawa tengah. pada waktu itu kami sama-sama akan mendaftar kuliah di sebuah sekolah tinggi kedinasan di negeri ini. kami berkenalan karena merasa senasib dan sama-sama bermalam di masjid. yaah, sekedar perkenalan biasa, karena waktu itu saya masih takut berkenalan dengan orang asing. Sayangnya kami berdua sama-sama tidak lulus di ujian itu. Maka bermalam di masjid waktu itu hanya menjadi kenangan belaka, tanpa hasil. Pertemanan kami dijalin hanya lewat sms, dan korespondensi. Kebetulan saya hobi korespondensi, meskipun sudah ada email, berkorespondensi tetap hal yang menyenangkan buat saya pribadi. Waktu itu saya diterima di sebuah sekolah tinggi kedinasan lainnya, dan seingat saya dia tidak diterima lagi--waktu itu kami mendaftar di tempat yang berbeda. Waktu terus berjalan, dan kami pun kehilangan jejak masing-masing. Nomor HP ilang, alamat pun entah kemana.

Tanpa terasa lima tahun sejak perkenalan itu telah berlalu. Padahal selama masa itu saya sudah dua kali pindah tempat kerja, beberapa kali pindah bagian dan banyak hal lain yang terjadi...kecuali nikah ... ;p
Beberapa waktu yang lalu saya iseng membuka catatan lama dan di salah satu halamannya saya menemukan alamat rumahnya. Naluri Korespondensi saya--yang saya terjemahkan sebagai keinginan untuk melanjutkan silaturahmi--kembali muncul. Dan saya pun menulis surat untuknya.

Beberapa hari setelah mengirim surat itu--lewat kantor pos--saya mendapat telepon dari nomor tidak dikenal, dan ternyata itu nomornya. Saya sempat shock, tadinya saya tidak menyangka akan secepat itu mendapat respon atas surat saya. Maka pertemanan kami kali ini tidak dengan korespondensi, tetapi dengan telepon dan sms.

Dari ceritanya sekarang dia berada di salah satu pulau di luar jawa, bekerja. dan beberapa bulan setelah surat itu dia mengabarkan bahwa dia akan pulang ke kampungnya di Jawa. Kami pun sepakat untuk bertemu. Saya sempat ragu, bertemu seorang sahabat--yang sebenarnya sudah seperti saudara sendiri--tetapi di sisi lain saya sebenarnya juga tidak mengenalnya. Tidak mengenalnya secara fisik, sempat terfikir saya akan ditipu--maklum, hidup di jakarta kadang harus mempersiapkan kemungkinan terburuk.
Dalam keragu-raguan itu saya menguatkan diri saya, bahwa niat saya adalah menjalin silaturahmi dengannya. Dan kami pun bertemu. Seingat saya dia tidak berubah dari seperti ketika kami bertemu pertama dahulu, hanya saja sekarang lebih gemuk dan agak putihan sedikit.

Bukan itu yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan mengenai sosoknya. Dia adalah Soe Hok Gie masa kini bagi saya. Dia tipe pemberontak yang tidak mau bergantung dari belas kasihan orang lain. Tiga kali gagal mendaftar di sekolah kedinasan dan dua kali gagal mendaftar sebagai CPNS mungkin membuatnya sakit hati. Maka saya tidak heran ketika dia menunjukkan ketidaksukaan terhadap PNS--macam saya. Tetapi dari kesakithatiannya itulah dia berjuang untuk hidupnya. Pekerja keras yang juga keras kepala, itulah dia. Seorang ambisius yang bertanggung jawab. Ramah, dan sayang pada keluarganya. Dia adalah sosok pekerja keras yang banyak belajar dari masa lalu.

Dan ternyata sifat-sifatnya itu dia dapatkan dari keluarganya. Ayahnya mendidiknya untuk tidak bergantung dari belaskasihan orang lain. Dia bercerita kalau dia tidak mau kesuksesan yang diraihnya didapat karena jasa orang lain. Karenanya dia benar-benar berjuang sendiri untuk memenuhi kehidupannya. Kehidupannya yang dari dulu memang sudah keras. Sejak SD dia terbiasa berjualan. Ketika lebaran berjualan toples, ketika tahun ajaran baru berjualan buku, bahkan ketika pulang sekolah dia rela menjadi kernet angkot untuk sekedar membeli buku sekolahnya. Dia yang terbiasa membawa nasi ke sekolah untuk menghemat makan siang. Dia yang terbiasa dengan makanan yang biasa-biasa saja. Dia yang sederhana, pekerja keras, dan keras kepala.
Kesibukannya bekerja tentu saja tidak menghalangi dia untuk berprestasi. Dari SD hingga SMA dia sudah terbiasa dengan gelar juara. Bahkan--menurut cerita ibunya--ketika SD dia sudah menjadi juara mapel matematika tingkat kabupaten.
Sampai disini saya semakin salut ...

Dan hal lain yang saya belajar darinya adalah tentang keramahan. Dia yang--sepertinya--mengenal hampir semua orang di desanya, dia yang bisa beramah-tamah dengan semua orang yang dia temui--padahal saya sangat tidak bisa melakukannya....dsb dsb

Maka, hanya rasa kagum yang bisa saya berikan kepadanya. Dan sampai disini ternyata saya menemukan jawabannya. Jawaban kenapa saya harus bertemu orang asing yang ternyata adalah guru kehidupan bagi saya, guru tentang kesederhanaan, guru tentang kerja keras, kekeluargaan dan kasih sayang. Terimakasih sahabat,, surat itu memang kesalahan terbesar saya...kenapa saya baru menuliskannya sekarang-sekarang ini, tidak dari dulu. Dan kamu tahu, bahwa itu adalah kesalahan terindah ... karena saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga untuk saya coba terapkan di kehidupan saya ...
terimakasih

Jumat, 09 Juli 2010

entah,,

entah,
entah ini aku atau engkau..
entah ini rasa atau hanya sebuah asa..

ya,
entah,
hanya sebatas entah,,

tanya,
ku tanya bimbang,
namun ternyata sepi menjawab,
hanya dengan sebuah entah,
hanya dengan sebait resah..

ragu,waktu,aku
dan dirimu pun berlaku
meninggalkan sebuat entah..
berselimutkan resah..






akankah hanya berakhir dengan seberkas entah?
entah,,

Rabu, 16 Juni 2010

MUTIARA DI BALIK PESISIR - 1





MENYEBERANG MENUJU MUTIARA

Pagi yang cerah di hari Rabu, 2 Juni 2010. Kami berenam berangkat dari Kota Kretek—Kudus—ke Jepara. Pagi itu kami berniat untuk menyeberang ke Kepulauan Karimunjawa, yang katanya dijuluki sebagai ‘Mutiara dibalik Pesisir’. Rombongan—yang terdiri dari Adin, Arif, Arus, Eka, Jalu dan saya sendiri—berangkat dari Kudus jam 06.30 waktu setempat. Hampir tidak ada kemacetan atau halangan lain seperti lampu merah yang lama seperti yang biasa kita jumpai di Jakarta. Maka pukul 08.00 kami sudah tiba di Pelabuhan Jepara setelah sebelumnya mampir dulu ke ATM untuk mengambil uang tunai—karena menurut info di Karimunjawa tidak ada mesin ATM, sehingga harus membawa uang tunai yang banyak. KMP Muria terlihat sudah bersiap diri di pelabuhan. Kami yang baru pertama kali menyeberang menggunakan kapal fery, sedikit gugup juga membayangkan bagaimana kapal segede itu terombang-ambing di lautan selama 6 jam. Maka tak ayal beberapa dari kami sudah mulai mual dan muntah-muntah, padahal perjalanan belum juga dimulai; maklum ndeso. Tiket VIP seharga Rp 58.250,- pun sudah kami pegang, ditambah retribusi masuk pelabuhan sebesar Rp 2.000,-. Sebagai informasi, tiket non VIP yang disediakan (Cuma ada dua kelas, VIP dan non VIP) seharga Rp 30.000,-

Tepat pukul 09.01 KMP Muria bertolak dari Pelabuhan Jepara, mengarungi laut luas menuju Kepulauan Karimunjawa. Menit-menit awal pemberangkatan kapal kami lalui dengan sedikit mual karena tidak terbiasa dengan gelombang laut. Baru setelah tiga puluh menit kemudian kami bisa menyesuaikan diri. Perjalanan 6 jam rasanya tidak seru kalau hanya dilalui dengan duduk-duduk di ruangan ber-AC, nonton TV dan makan camilan, maka naik ke geladak dan menikmati perjalanan dari atas kapal merupakan pilihan yang layak dicoba. Dimana kita bisa melihat kapal melaju membelah lautan lepas, meninggalkan deretan buih di atas air laut. Beberapa turis asing—bule—juga kami lihat melakukan hal yang sama. Waktu itu kebetulan cuaca sedang agak panas, maka memakai sunblock sangat dianjurkan. Selain menikmati perjalanan, berfoto-foto ria tentu saja menjadi pilihan yang menarik, terutama bagi kami yang suka narsis di depan kamera. Tapi ingat, jangan bergaya bugil di depan kamera Anda, karena disamping malu karena banyak orang, juga dikhawatirkan video tersebut bakal beredar di internet seperti kasus para artis yang marak belakangan ini.

Sebenarnya dalam hati saya sedikit merasa ciut juga, membayangkan bagaimana selama enam jam kedepan kami akan berada di atas kapal ini. Sederet pertanyaan parno saya pun bermunculan: bagaimana jika ... bagaimana jika ... bagaimana jika .... dst, apalagi baru kali ini saya menggunakan jasa penyeberangan KMP Muria yang mempunyai motto we bridge the nations—bangga menyatukan nusantara. Tapi ternyata, memandang lautan luas bisa memberikan ketenangan tersendiri bagi saya. Ombaknya, riaknya, garis cakrawala dan Pulau Jawa yang terlihat semakin mengecil; membuat saya ingin mengutip sebaris lirik lagunya MLTR :

Sitting here all alone, in the middle of nowhere .....
Meski saat itu saya tidak sendiri—tentu saja tidak, kami berbanyakan, meski tak sebanyak penumpang kapal Titanic—tapi tetap saja berada di tengah lautan lepas membuat saya merasa ‘kecil’.

Pukul 13.30 kapal kami menepi di pelabuhan Karimunjawa. Para penumpang pun berebut untuk turun. Mengingat kapal ini adalah satu-satunya penghubung kepulauan Karimunjawa dengan dunia luar, maka sepertinya kedatangan kapal ini sangat ditunggu-tunggu oleh penduduk Karimunjawa. Selain membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa diproduksi sendiri, kapal ini juga membawa turis yang membawa ‘uang segar’ bagi para penduduk Karimunjawa. Tak ayal begitu turun dari kapal, banyak warga sekitar—yang ternyata kemudian saya ketahui sebagai semacam ‘pemandu wisata’ menawarkan jasa penginapan. Penginapan yang tersedia beragam jenisnya. Ada hotel mewah dengan view pantai dengan harga yang tentu saja ‘mewah’; ada hotel sederhana—fasilitas andalannya adalah AC dan listrik penuh seharian—dan adapula homestay—yaitu rumah-rumah penduduk yang disewakan bagi para turis. Menimbang budget yang tersedia, kami pun memilih homestay untuk tempat bermalam kami selama empat hari kedepan. Berupa kamar sederhana tapi rapi, dengan kipas angin dan cermin kecil di dalamnya, kamar mandi terpisah dan listrik yang sama seperti penduduk pada umumnya: hanya menyala pada malam hari. Maka bagi Anda yang ingin berlibur ke Karimunjawa, disarankan tidak perlu membawa gadget yang berlebihan seperti laptop karena di samping daya listrik yang terbatas, juga perlu diingat bahwa berwisata di Karimunjawa artinya berwisata di lautan (baca: air), jadi saya rasa berada di kapal di tengah laut dengan membawa laptop untuk sekedar online atau mengerjakan sesuatu saya pikir bukan ide bagus. 

Homestay yang kami pilih bernama Homestay Prapatan, kepunyaan Bapak Jailani (bagi yang berminat bisa menghubungi Yovie di nomor +6281357234344). Terletak di tengah-tengah (Kota) Karimunjawa, tidak terlalu jauh ke pelabuhan, juga tidak terlalu jauh ke pusat kota. Sebenarnya homestay Prapatan ini kami pilih atas rekomendasi dari seorang warga Karimunjawa yang kebetulan satu kapal dengan kami. Kami yang berenam menyewa 2 kamar (sekamar bertiga), dengan harga sewa Rp 60.000,- permalam. Karena kecapaian, kami memilih untuk beristirahat sebentar sebelum mulai menjelajah di Karimunjawa.

KOTA KECAMATAN

Karimunjawa sebenarnya adalah nama sebuah kecamatan. Kecamatan Karimunjawa adalah sebuah tempat yang yang luasnya tidak seberapa, bisa dikelilingi dengan jalan kaki hanya dalam waktu 20 menit. Sebuah kecamatan di tempat terpencil, desa bukan, kota juga bukan. Sore harinya setelah mandi dan berganti baju, kami menyempatkan diri untuk mencari makan di pusat kota. Pusat kota Karimunjawa adalah sebuah komplek pemerintahan Karimunjawa (terdiri dari kantor camat, kantor petinggi, SD, kantor militer, dan kantor telkom) yang di depannya adalah sebuah lapangan sepakbola, pelabuhan dan tempat pelelangan ikan. Nah, di depan lapangan tersebutlah tempat para penjual makanan menjajakan dagangannya. Biasanya ramai pada sore hingga malam hari. Dan setiap malam minggu, di depan kantor kecamatan diadakan pemutaran film. Orang-orang sekitar menyebutnya layar tancap—yang sebenarnya adalah sebuah film yang diputar dengan komputer dan disajikan dengan infokus pada sebuah layar besar.

Sabtu, 12 Juni 2010

Somebody wants you,
Somebody needs you,
Somebody dreams about you every single night,
Somebody can't breath without you,
It's lonely...
Somebody hopes someday you will see:
that somebody's me ...